Minggu, 13 Mei 2012

Naskah drama untuk 4 orang


NASKAH DRAMA
Tema                          : NASIB SEORANG MANUSIA
Judul                           : RODA KEHIDUPAN
Sinopsis                       : Andi, seorang anak miskin penjual koran. Sedangkan Reza adalah seorang anak dari keluarga yang kaya dan sangat membenci Andi. Namun, terjadi sesuatu yang akhirnya membuat kehidupan mereka berubah hingga 360o dari sebelumnya. Apakah yang sebenarnya terjadi ?


Adegan I
Tampak berjejer rumah-rumah mewah dan elite di sebuah kompleks perumahan. Terlihat sangat bersih dan rapi. Andi tampak sedang menyusuri jalan sambil menjajakan korannya ke setiap rumah. Ia pun terus berjalan dan akhirnya berada di depan pagar rumah Reza.



ANDI :
Koran, koran, koran. Koran pak, koran bu...

REZA :
Koran.... ( berlari kecil keluar rumahnya ) Aku mau beli koran. Berapa satunya ?

ANDI :
Murah kok. Cuma Rp 3.500,-

REZA :
Oh, gitu. Ini uangku, sisanya ambil aja.

ANDI :
Wah, tapi uang kamu Rp 100.000,-

REZA :
Gak apa-apa. Ambil saja, orang miskin kayak kamu pasti butuh uang itu. Jadi, ambil aja.


ANDI :
Kalau gitu terima kasih ya. Oh iya, ini korannya ( Memberikan koran kepada Reza sambil tersenyum )

REZA :
Ya udah, sana pergi. Jangan lama-lama disini.

ANDI :
Iya, sekali lagi terima kasih.

REZA :
Iya, iya. Cepet sana pergi.

Adegan II
Tampak lingkungan yang sangat kotor dan bau. Sampah berserakan dimana-mana, serta keadaan tanah yang becek pada tempat itu. Andi pun berjalan menuju rumahnya yang berada di kampung itu.



ANDI :
Bu.. Ibu... Andi pulang bu.

BU SITI :
( Segera keluar rumah dan membukakan pintu untuk Andi ) Kamu sudah pulang ?

ANDI :
( Masuk kedalam rumah bersama Bu Siti, lalu menutup pintu ) Iya bu. Hari ini Andi dapat banyak uang.

BU SITI :
Wah, bagus kalau begitu. Mana uangnya ?

ANDI :
( Merogoh sakunya lalu mengambil uang hasil penjualan korannya dan memberikannya kepada Bu Siti ) Nih bu !


BU SITI :
Hah, banyak sekali.. ( Menunjukkan ekspresi wajah kaget dengan mulut menganga )

ANDI :
Tadi yang beli anak orang kaya bu. Terus, dia bilang kembaliannya ambil aja.

BU SITI :
Dia anaknya baik ya. Jarang loh, ada anak orang kaya yang baik.

ANDI :
Iya bu, dia memang baik, tapi sayangnya dia sombong. Tadi waktu Andi udah selesai beli koran, dia langsung ngusir Andi dari rumahnya dan waktu dia minta koran, dia bilangin Andi ini orang miskin.

BU SITI :
Oh, begitu ya. Ternyata orang kaya dimana-mana sama saja. Selalu menginjak harga diri orang dibawahnya, padahal harta itu gak dibawa mati.

ANDI :
Ya udah bu kita jangan bicarakan orang lain terus, nanti bisa dosa. Andi mau simpan uangnya di celengan dulu ya bu.

BU SITI :
Eh, tunggu dulu, ibu mau bilang sesuatu. Isi celengan kamu sudah ada berapa ?

ANDI :
Andi tidak tahu bu, Andi nggak pernah hitung. Memangnya kenapa bu ?

BU SITI :
Kalau uangnya sudah cukup banyak dan masih cukup untuk biaya makan kita, ibu pinjam sedikit ya. Karena belum terima gaji dari majikan ibu, padahal ibu Lastri sudah terus menagih hutang sama ibu.

ANDI :
Iya bu. Nanti pasti Andi kasih kalau sudah cukup banyak. Ibu tidak usah pinjam, ambil aja bu.
BU SITI :
Tapi kan itu uang tabungan kamu untuk nanti masuk kuliah. Ya kan ?

ANDI :
Tidak apa-apa bu. Kan kuliah Andi masih lama. Jadi, masih ada waktu untuk Andi mengumpulkan uang yang lebih banyak lagi.

BU SITI :
Kamu memang anak baik. Terima kasih ya nak. Dan kamu juga harus lebih rajin lagi untuk menabung. Kamu masih ingin jadi dokter kan ?

ANDI :
Iya bu. Andi harus jadi dokter. Andi mau mengobati orang yang sedang sakit supaya mereka cepat sembuh dan tidak menderita atas penyakit yang ia miliki.

BU SITI :
Kemauan kamu benar-benar mulia. Ibu do’akan supaya itu semua cepat terwujud.

ANDI :
Amin...

Adegan III
Andi berangkat dari rumahnya untuk pergi menjajakan korannya kembali di kompleks rumah Reza. Namun...

ANDI :
Koran, koran, koran. Koran pak, koran bu...



Ckitttt..... Sebuah mobil berada tepat di depan Andi lalu menyerempetnya.



ANDI :
( Tersungkur ke dekat trotoar ) Aduhh....



Keluarlah seorang wanita dari dalam mobil dan segera melihat keadaan Andi yang tersungkur di dekat trotoar.



IBU NIKITA :
( Berkata dengan terbata-bata ) Ya ampun.. Ya ampun.. Kamu.. Kamu saya bawa ke rumah sakit ya.

ANDI :
Tidak usah bu. Saya tidak apa-apa, kaki saya hanya keseleo sedikit.

BU NIKITA :
Tapi, kaki kamu memar. ( Menghela napas ) Kalau begitu saya bawa kamu saja masuk kedalam rumah saya supaya kaki kamu bisa diobati agar tidak bengkak.

ANDI :
Tidak usah bu. Kaki saya tidak apa-apa, nanti juga memarnya hilang.

BU NIKITA :
Sudah.. Sudah.. Pokoknya kamu masuk saja ke rumah saya. Kalau kamu pulang dengan keadaan seperti ini, kamu tidak bisa jual koran karena kaki kamu memar.



Bu Nikita berteriak di depan pagar untuk memanggil pembantunya agar membawa Andi masuk ke dalam rumah.



MBOK SUMI :
Ada apa bu ?

BU NIKITA :
Bawa anak ini kedalam rumah, lalu obati kakinya pakai obat di dalam kotak P3K dan ambilkan surat-surat yang ada di meja kerja saya. Saya masih harus kembali ke kantor karena masih ada banyak urusan.

MBOK SUMI :
Baik bu.


Mbok Sumi masuk kedalam rumah sambil menggendong Andi dan menidurkannya di atas sofa. Ia pun masuk ke dalam ruang kerja Bu Nikita lalu mengambil surat-surat dan segera keluar rumah untuk memberikannya kepada ibu Nikita. Mbok Sumi pun kembali masuk ke dalam rumah dan melihat keadaan Andi.

MBOK SUMI :
Apanya yang sakit ?

ANDI :
Kaki saya keseleo bu, jadi agak memar.

MBOK SUMI :
Kamu tidak usah panggil saya ibu. Panggil saja dengan Mbok. Ya sudah, Mbok ambilkan dulu ya kotak obatnya.



Mbok Sumi berjalan menuju tempat penyimpanan kotak P3K. Setelah mendapatkannya, ia pun kembali ke sofa tempat ia menidurkan Andi.



MBOK SUMI :
( Duduk di atas sofa ) Sini kakinya biar ibu kasih obat, lalu dipijat.

ANDI :
Iya Mbok.



Mbok Sumi pun memberikan obat dan memijat kaki Andi. Tiba-tiba terdengar suara dari lantai atas.



REZA :
Mbok Sumi... Aku mau makan... Makanannya sudah siap belum ?

MBOK SUMI :
( Berteriak sambil sedikit mengangkat kepala menuju ke arah keberadaan Reza ) Sudah saya siapkan di atas meja makan Mas Reza.

REZA :
( Menuruni tangga menuju ruang makan ) Loh mbok, itu siapa ? Kenapa mbok mijat-mijat kakinya ?

MBOK SUMI :
Kakinya keseleo dan memar. Makanya saya pijat supaya memarnya hilang.
REZA :
Tapi dia itu orang miskin ( Menuju ke dekat Andi ) Heh, gembel gak tau diri ! Pergi kamu dari sini, ini bukan rumah kamu. Seenaknya aja ya, kamu nyuruh pembantu saya untuk pijat-pijat kaki kamu.

MBOK SUMI :
( Berkata dengan terbata-bata ) Tapi.. tapi mas... dia itu...

REZA :
Mbok tidak usah ikut campur. Mbok lebih masuk aja, saya mau mengusir gembel ini dulu.

Mbok Sumi pun masuk ke dalam. Tapi, ia segera mengangkat telepon untuk menelepon ibu Nikita.



BU NIKITA :
Ada apa Mbok ?

MBOK SUMI :
Gawat bu, gawat

BU NIKITA :
Gawat kenapa Mbok ?

MBOK SUMI :
Mas Reza mau mengusir anak yang sudah ibu tabrak tadi.

BU NIKITA :
Apa ? Mbok cepat cegah dia, saya akan pulang sesegera mungkin.

MBOK SUMI :
Baik bu. Saya akan berusaha mencegah Mas Reza.

Mbok Sumi pun kembali ke ruang tamu dan segera mencegah Reza agar tidak mengusir Andi.

MBOK SUMI :
Mas Reza! Mas Reza jangan usir dia. Tadi itu nyonya nyerempet anak ini. Dan kakinya itu luka. Mas Reza mau kalau kakinya tambah parah dan tidak bisa jualan koran lagi?
REZA :
Itu urusan dia. Kalau memang dia tidak bisa jualan koran lagi, kenapa kita harus pusing. Lagian, nggak mungkin mama nyerempet dia kalau si gembel ini nggak hati-hati. Dasar ya kamu, gembel yang pintar banget ambil hati orang.

Tiba-tiba pintu terbuka dan Bu Nikita segera masuk ke dalam rumah dan menuju ke arah Reza.

BU NIKITA :
Apa-apaan kamu mau ngusir anak yang tidak bersalah ini?
REZA :
Nggak bersalah? Mama itu salah, dia itu bersalah, Ma. Dia ini berusaha buat ngambil kesempatan dalam kesempitan.
BU NIKITA :
Apa maksud kamu?
REZA :
Aduh, Ma. Masa’ mama nggak tau sih?. Dia itu sengaja nempel-nempel ke mobil mama supaya bisa diserempet. Dan disaat dia udah diserempet, dia pasti akan berharap mama ngasih dia uang ganti rugi. Atau mungkin disaat dia udah dibawa masuk ke dalam rumah, dia akan berusaha untuk mengambil barang-barang berharga yang ada dalam rumah kita saat kita semua sedang lengah.
ANDI :
Maaf ya. Saya sudah sering kali mendapatkan cacian dan makian dari orang lain lantaran saya ini orang miskin. Dan saya tidak pernah merasa tersinggung atau marah terhadap sikap mereka. Tapi disaat saya mendapat fitnah bahwa saya berusaha untuk mencuri, maka disitulah saya akan marah.
REZA :
Terus, kalau kamu marah kamu bisa apa?
ANDI :
Mungkin, saya memang tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi saya mohon, jangan sekali-kali kamu mengganggap bahwa setiap orang miskin itu adalah penjahat. Karena nyatanya tidak semua orang miskin itu mempunyai pikiran untuk mencuri. Dan ( Andi menatap Bu Nikita ) terima kasih ibu telah mau mengobati luka saya. Saya pamit bu.
REZA :
Ya... ya... ya... Mungkin sekarang basa-basinya sudah cukup. Sana keluar dari rumahku.

Andi keluar dari rumah Reza dan pulang ke rumahnya.

Adegan IV
Malam hari. Reza sedang asyik berbaring di ranjangnya sambil mengutak-atik handphone-nya. Tiba-tiba terdengar suara yang sangat berisik dari lantai bawah. Reza pun segera bangkit dari ranjang dan menuju ke lantai bawah.

REZA :
Mama, ada apa sih? Kok, ribut banget?
BU NIKITA :
Reza, papa kamu....
REZA :
Papa kenapa, Ma?
BU NIKITA :
Papa kamu ditangkap polisi, dia... dia melakukan korupsi ( katanya yang diringi dengan tangis yang terisak-isak )
REZA :
Terus, bagaimana nasib kita, Ma?
BU NIKITA :
Mama nggak tau. Tapi polisi tadi mengatakan kalau rumah, perusahaan dan semua harta yang kita punya akan disita sebagai ganti atas uang yang papa korupsi.
REZA :
Terus, kita tinggal dimana, Ma? Mama mau kerja apa? Kita nggak mungkin harus tidur di jalanan.
BU NIKITA :
Sudah tidak ada pilihan lain lagi. Mama harus mencari pekerjaan di tempat lain. Dan masalah tempat tinggal, mama akan carikan kontrakan yang harganya murah. Jadi kita tidak perlu tidur di jalanan.
REZA :
Tapi, Ma. Kalau kontrakannya itu harganya murah, pasti tempatnya juga sangat kumuh, Ma.
BU NIKITA :
Sayang, masih baik kita masih bisa tidur di bawah atap. Kamu nggak liat? Masih banyak orang lain diluar sana yang nggak seberuntung kita. Ingat itu!
REZA :
( menangis di pangkuan ibunya ) Baik, Ma. Reza mau tinggal di sana.

Adegan V
7 tahun kemudian. Akhirnya, Andi yang rajin menabung memiliki masa depan yang gemilang dan sebagian hasil dari kesuksesannya ia gunakan untuk membangun sebuah Panti asuhan yang menampung banyak anak yatim. Namun, pada malam itu, Reza tidak sengaja melintas di depan Panti Asuhan milik Andi dan berteduh sejenak karena malam itu sangat dingin dan hujan deras.

ANDI :
( berjalan menuju Reza ) Ehmm..
REZA :
( berpaling ke wajah Andi) Eh, maaf, Pak. Saya hanya numpang berteduh.
ANDI :
Oh, tidak apa-apa. Justru saya menawarkan bapak untuk masuk sekaligus untuk istirahat di dalam. Atau, mungkin bapak mau makan? Di dalam anak-anak juga sedang makan. Bapak juga bisa ikut makan.
REZA :
Tidak usah, Pak. Terima kasih banyak atas tawarannya.
ANDI :
Baiklah, kalau begitu. ( menatap Reza dengan penuh kehangatan )
REZA :
Loh, kenapa Bapak menatap saya seperti itu?
ANDI :
Begini, Pak. Entah kenapa saya rasa sosok Bapak itu begitu familier untuk saya. Apa kita pernah ketemu?
REZA :
Saya juga tidak tahu, Pak. Memangnya nama Bapak siapa?
ANDI :
Saya Andi.
REZA :
Hah? Andi? Kamu Andi yang waktu itu menjual koran?
ANDI :
Iya, berarti kamu Reza ?
REZA :
Iya, senang sekali saya bisa bertemu kamu lagi.
ANDI :
Memangnya kamu tidak jijik dengan saya? Dulu kamu sangat tidak ingin saya ada di dekat kamu. Kenapa sekarang kamu jadi berubah?
REZA :
Karena hidup saya pun juga sudah berubah.
ANDI :
Berubah?
REZA :
Iya. Saya sekarang sudah tidak punya apa-apa. Harta dan rumah saya sudah disita karena papa saya korupsi.
ANDI :
Sabar, itu namanya hidup. Tuhan memberikan kita cobaan. Dunia ini berputar, seperti dengan manusia, nasibnya juga berputar, kadang diatas, kadang dibawah, seperti roda kehidupan. Jadi, kita harus siap jalani semuanya.”
REZA :
Iya, Kata-kata kamu itu benar. Saya janji, saya akan berusaha untuk mendapatkan hal yang pernah saya miliki dulu.
ANDI :
Betul. Karena hidup penuh dengan perjuangan.







Amanat : Dunia pasti berputar, kadang di bawah dan kadang di atas bagaikan roda. Sama dengan nasib manusia, oleh karena itu kita harus siap menjalani semuanya dan mengikhlaskan segalanya. Karena semua itu semata hanyalah milik Tuhan Yang Maha Esa.

2 komentar:

  1. wah.. makasih teks dramanya..bgus sekali. saya ijin copy utk tugas school ya...

    BalasHapus